Kamis, 21 April 2016

BIOGRAFI AHMADINEJAD



KISAH RAHASIA SANG PEMIMPIN RADIKAL IRAN
Mahmoud Ahmadinejad dilahirkan di Aradan pada tanggal 28 Oktober 1956. Ahmadinejad adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Beliau tinggal di kota kecil nan sepi diujung utara padang garam di pedalaman Iran. Aradan terletak didekat kaki perbukitan gersang yang memagari terpian utara padang garam. Dari Teheran menuju kota itu membutuhkan 2 jam perjalan dengan mobil. Rumah pertama taman kanak-kanak Ahmadinejad ialah sebuah rumah kontrakan sederhana dua lantai berbahan bata dan turap lumpur. Ahmadinejad mulai bersekolah di Narmak pada awal tahun 1960-an, kira-kira bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara pemerintah dengan ulama syiah dikota suci Qom. Pada masa itu terjadi peristiwa-peristiwa politik yang berunjung pada pecahnya revolusi Islam 1979. Satu generasi kemudian revolusi itu mengantar Ahmadinejad menjadi presiden. Ayatullah Ruhollah Khomeini, seorang cendikiawan Muslim tak dikenal dari Qom, pada tahun 1963 memimpin pemberontakan melawan kebijakan modernisasi yang dilakukan Shah. Kebijakan itu diberinama revolusi putih itu bertujuan untuk menata ulang struktur sosial dan ekonomi masyarakat Iran, meliputi pengaturan kembali lahan dengan cara membeli lahan dari para tuan tanah kemudian membagi-baginya menjadi persil (kaveling) kecil agar dapat dimiliki rakyat biasa.
Dalam suasana dramatis inilah Mahmoud kecil memulai pendidikannya di sekolah pertamanya, Saidi, adalah sekolah negeri yang terletak di pinggiran jalan utama, hanya beberapa ratus meter dari bengkel ayahnya. Lalu beliau di pindahkan dari sekolah negeri ke Daneshmand (sang ilmuan). Daneshmand dianggap sebagai sekolah swasta terbaik di Narmak, tentu saja biayaanya juga sepadan. Teman-teman masa kecilnya mengingat Ahmadinejad sebagai anak bertubuh kecil pendiam, berwajah sendu. Mahmoud yang sudah mengetahui cara membaca bagian-bagian berbahasa Arab dalam Al-Quran memamerkan kepiawaiannya kepada anak-anak lain. Menurut cerita teman-teman masa kecilnya, ayah Mahmoud selalu membangunkan dia di waktu fajar, waktu shalat subuh, dan membantu anak laki-lakinya berlatih membaca Al-Quran. Ahmadinejad pun menulis dalam blog-nya: “Untuk menjauhkan kami dari atmosfer modern yang diembuskan Shah, atmosfer yang merampas jati diri negeri ini, ayah mengenalkan kami kepada masjid dan manbar (mimbar yang digunakan untuk berkhotbah sewaktu shalat Jumat-kepada dunia khotbah dan para khatib).”
Ia anak yang rajin belajar. Sebelum berangkat ke sekolah, dia selalu mengunakan waktu setelah shalat  Jumat untuk belajar. Selama sekolah menengah atas Ahmadinejad tidak terlalu aktif dalam kegiatan politik, namun ia benar-benar mengikuti gaya hidup religious ayahnya. Masa politik Ahmadinejad dimulai ketika ia masuk universitas pada tahun 1975 empat tahun sebelum revolusi. Ia lulus ujian masuk universitas dengan nilai sangat memuaskan. Ia mendapat peringkat ke-132 diantara 200.000 siswa yang bersaing memperebutkan 10.000 tempat universitas. Ia memilih jurusan teknik pembangunan di politeknik Narmak yang kemudian menjadi universitas Elm-o-Sanat Universitas sains dan teknologi. Pada masa itu terjadi pergolakan dalam lingkungan universitas. Gerakan sayap kiri bawah tanah dan oposisi Islam penentang Shah telah menyebar. Berkat kenaikan harga minyak pada tahun 1973, Iran mampu keluar dari kemiskinan.  Shah berencana mengembangkan Iran menjadi sebuah negeri industry modern. Tetapi sejalan dengan majunya proyek pembangunan, perkembangan politik justru memburuk. Semua gerakan oposisi dibubarkan. Tekanan politik di Negara itu berbanding terbalik dengan pesatnya perkembangan ekonomi. Shah bahkan menyiarkan rekaman video yang isinya menegaskan bahwa siapapun yang menentang kebijakannya dipersilahkan meninggalkan negeri. Pembebasan aturan itu yang membangkitkan kemarahan para ulama di Qom dan dikota-kota besar lain. Pemerintah mengizinkan minuman beralkohol dijual bebas di toko-toko, kaum perempuan dibolehkan mengenakan rok mini, dan bioskop diizinkan memutar film-film Barat.
Di universitas, Ahmadinejad berkenalan dengan tulisan dan ajaran Dr.Ali Shariati. Dengan seorang filsuf sayap kiri, berjasa telah menegakkan landasan intelektual bagi para mahasiswa muda religious yang mengiginkan perubahan. Shariati pernah ditangkap dan dijebloskan kepenjara karena melakukan kegiatan yang oleh SAVAK polisi rahasia Shah, karena dianggap sebagai tindakan subversif. Ahmadinejad juga aktif di masjid Jam’I Narmak. Ditahun ketiga di universitas dan menjelang Revolusi, Ahmadinejad menjadi pendukung Ayatullah Khomeini. Secara sembunyi-sembunyi, bersama teman-teman kepercayaannya, dia mencetak dan meyebarkan pidato Khomeini dari tempat pengasingan. Polisi rahasia Shah telah menandai keluarga Ahmadinejad sebagai salah satu yang berpotensi menentang pemerintah. Keluarga itu dicurigai telah mencetak selebaran Revolusi, ketika polisi datang menggedor pintu rumah, kakak beradik ituh kabur dan bersembunyi dirumah sepupu mereka yang berada di kota gorgan. Sementara itu, Revolusi mengacaukan kuliah Ahmadinejad di universitas. Unjuk rasa menuntut Shah turun dari pemerintahan terjadi setiap hari disemua kota besar dan kecil. Tahun 1978 merupakan masa ketika unjuk rasa semakin sering terjadi. Kekerasan dan kematian disusul oleh unjuk rasa kekerasan, dan kematian lebih banyak. Di Narmak, kakak beradik Ahmadinejad menggunakan kantong-kantong pasir untuk membangun pos pertahanan di alun-alun dekat rumah mereka dan melakukan pengawasan keamanan lingkungan. Ahmadinejad lambat laun muncul sebagi seorang pemimpin aktivis mahasiswa pendukung Islam Khomeini di kampusnya. Suasana politik di kampus Ahmadinejad pada umumnya beraliran kanan, dalam konteks ini berarti menjalankan doktrin-doktrin tradisional dan mendukung kepemimpinan para ulama, sementara universitas lain lebih mendukung sayap kiri yang dominan.
Menurut Ahmadinejad , tugas utama mereka  (pendukung Islam) adalah menggalangkan dukungan dan melawan penyebaran pengaruh kelompok-kelompok sayap kiri, terutama Fedayeen-e-khalq yang mengusung Marxisme dan organisasi muslim Mujahedin-e-khalq. Kata Ahmadinejad jauh sebelum beliau menjabat sebagai seorang presiden. Sementara itu di Teheran dan kota-kota besar yang lain, komunitas Islam merasa harus memperkuat posisi mereka di universitas. Dalam lingkungan ulama pemimpin Revolusi, Ayatullah Mohammad Baheshti merupakan tokoh kuat. Ia orang yang telah mendirikan landasan bagi para pendukung Khomeini untuk mendapatkan kekuatan istimewa yang kemudian memicu revolusi Islam. Tidak lama kemudian Ahmadinejad berhasil menjadi pimpinan Organization for Consolidating Unity (OCU, Organisasi penggalang Persatuan). Dewan inti OCU bertemu dengan Ayatullah Khomeini untuk melaporkan kegiatan dan menerima perintah. Inilah kesempatan Ahmadinejad untuk bertemu pujaanya; bukan hanya sebagai pemimpin agama, melainkan juga sebagai mentor politiknya.
Terpilihnya beliau  menjadi presiden pada Juni 2005, Sebelum beliau menjadi orang nomer satu di negaranya, beliau adalah anak seorang pandai besi. Ahmadinejad pindah ke Teheran beberapa tahun sebelum kebijakan land reform yang diterapkan oleh shah.  Hampir semua penduduk kota memilih Ahmadinejad ketika ia dicalonkan melawan Rafsanjani pada pemilhan presiden tahun 2005. Tata cara pemilihan umum di Iran menyediakan jatah kampanye merata melalui siaran televisi bagi semua calon presiden yang telah disetujui  tanpa melihat orientasi politik mereka. Tanpa ada aturan resmi ini, Ahmadinehad sebagai calon yang berasal dari luar kemapanan akan hampir tak berpeluang untuk diliput oleh televisi. Rekamanya secara teknis sangat buruk dan tidak menjekasan rencana kebijakan atau ambisi sang calon. Tak ada janji soal peningkatan taraf hidup, tak ada misi tentang pemerintahan mendatang, dan jelas tanpa kesan seputar kehangatan atau karisma.  kecemasan pun menggantikan euforia pemilihan umum diantara sebagian besar rakyat Iran. Dan ketika  Ahmadinejad memenangi pemilihan, mereka memenuhi jalan utama dengan lampu warna-warni dan merayakan sampai larut malam. Berharap kemiskinan dan pengangguran akan berakhir. Mereka juga menginginkan perubahan dan kemakmuran di kota kecil Aradan. Massoumeh Sabaghian, sepupu Ahmadinejad melukiskan kegembiraan penduduk kota. “ Kami berharap ia bisa membawa keadilan, penyelamat bagi kaum miskin, dan memotong tangan para pencuri,” katanya. Dia mengharapkan korupsi lenyap. “Bila ada orang yang bisa membawa keadilan, itulah Ahmadinejad, yang akrab dengan pengawal Revolusi dan Basij.  Setelah menduduki kursi keprisidenan, para pendukung Ahmadinejad justru putus asa menanti terkabulnya semua harapan mereka.
Hanya 5 hari setelah terpilih sebagai presiden pada Rabu, 29 Juni 2005, Ahmadinejad mendapat pelajaran mengenai kekuasaan dari media Barat. Dia tiba-tiba dituduh sebagai teroris. Sebuah foto bitam uram menampilkanseorang pemuda mirip Ahmadinejad berdiri disamping sandera Amerika Serikat.  Di kedutaan Amerika Serikat di Teheran, tangan sandera itu di borgol dan matanya di bebat kain. Ahmadinejad yang masih hijau dalam memanfaatkan media Barat untuk meraih keuntungan,langsung menyangkal keterlibatannya. CIA memeriksa foto dan rekaman video dari tempat kejadian tempat perkara di Teheran, dan melaporkan bahwa Ahmadinejad mustahil terlibat. Seorang penjabat Amerika Serikat yang turut menyelidiki foto itu mengatakan bahwa para pemeriksa menemukan “ketidak sesuaian yang besar” antar figure pada foto tahun 1979 itu dengan citra presiden Iran yang sekarang. Sang pejabat mengatakan bahwa ketidaksesuaian itu meliputi perbedaan struktur wajah dan tubuh. Peristiwa penyanderaan itu berawal pada pagi hari Senin yang mendung, 4 November 1979. Waktu itu para pemimpin mahasiswa pendukung Khomeini dan rekan-rekan mereka bergabung dalam gerak jalan menentang Amerika Serikat menuju gedung bata merah kedutaan Amerika Serikat dipusat kota Teheran. Mereka menyebutnya sebagai “sarang mata-mata”. Dikedutaan para mahasiswa tiba-tiba saja melepaskan diri dari kerumunan pengunjuk rasa dan berlari kearah gerbang seperti orang gila, meneriakkan kata-kata “Matilah Amerika”. Segera setelah para mahasiswa pengikut jalan imam memasuki gedung, mereka menguasai seluruh kompleks kedutaan yang berisi lebih dari 60 diplomat, staf, dan prajurit mariner AS. Peristiwa ini menjadi awal dari drama penyanderaan yang berlangsung selama 444 hari. Beberapa jam setelah penyanderaan dimulai, Ayatullah Khomeini mengumumkan dukungan terhadap aksi para mahasiswa. Pengumuman itu memaksa Perdana Menteri Mehdi Bazargan yang moderat mengundurkan diri. Pengunduran diri Bazargan menandai tersingkirnya kelompok moderat yang berorientasi pada Barat atau setidaknya secara diam-diam mendukung Barat, dari pergolakan politik revolusiner Iran.
Pada bulan Juni 2005 mengirimkan sebuah foto 2 orang penyendara ke internet, menyatakan bahwa salah satu diantara mereka adalah Ahmadinejad. Foto tersebut menampilkan dua laki-laki berjanggut mengapit seorang sandera AS. Sandera itu kemudian diyakini sebagai Jerry Mielle. Ternyata difoto itu hasil jepretan fotografer Associated Press pada tanggal 9 November 1979. MKO mengeluarkan pernyataan bahwa penyandera kedutaan adalah para mahasiswa  dari kelompok OCU. “Mantan pengurus OCU yang terlibat dalan pendudukan kedutaan Amerika Serikat mengatakan bahwa Ahmadinejad bertugas menjaga keamanan selama aksi berlangsung,” demikan bunyi peryataan MKO. Komentar masih terus berdatangan. Harian Washington Post mengutip pengakuan mantan sandera lain, Charles Scott. “Ia salah seorang dari dua atau tiga pemimpin mereka,” kata Scott, seorang pensiun kolonel angkatan darat yang tinggi di Jonesboro, Georgia, kepada surat kabar. “Presiden Iran yang baru adalah seorang teroris,” katanya. “tidak ada keraguan, dari gerak tubuhnya, ia jelas orang yang sama.” Sementara di Teheran, beberapa mantan penyandera, yang banyak di antara mereka  sekarang menjadi politikus reformis menentang Ahmadinejad, justru membantah pernyataan para mantan sandera. Mohammad –Reza-Khatami adik mantan presiden sebelumnya, Mohammad Khatami yang juga terlibat  dalam peristiwa penyanderaan, mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat Ahmadinejad di kedutaan. “ Saya tidak ingat ia ikut dalam kejadian itu“. Katanya. “ Saya benar-benar tidak mengingatnya ada disana”.
Mohsen Mirdamadi, salah seorang pemimpin penyanderaan, mengaku kepada BBC bahwa presiden baru mereka tidak pernah hadir dalam peristiwa di kedutaan Amerika Serikat. Politikus reformis lainnya, Saeed Hajjarian, juga menyangkal dugaan bahwa laki-laki dalam foto tersebut ialah Ahmadinejad. Hajjarian dahulu menjadi petugas intelijen senior dan bisa disebut “catatan hidup Revolusi”. Dia mengatakan kepada Associated Press: “Saya menentang kebijakan dan pemikiran Ahmadinejad, tetapi ia tidak terlihat dalam peristiwa penyanderaan itu”. Hajjarian mengenali laki-laki di samping kiri sander dalam foto sebagai Taqi Muhammadi, yang menurut Hajjarian ”berbalik melawan pemerintah dan tewas bunuh diri di penjara.” Mohammadi ditangkap atas tuduhan terlibat dalam peristiwa pengeboman pada tahun 1981 yang menewaskan presiden dan perdana menteri Iran pada masa puncak pergolakan revolusi. Tetapi laporan dari sumber lain menyatakan bahwa laki-laki yang mirip Ahmadinejad itu sebagai seorang bernama keluarga Ranjbaran. Menurut lapoaran ini, Ranjbaran ternyata seorang agen  MKO yang kemudian dieksekusi. Laporan itu menyepakati bahwa laki-laki di samping kanan sandera adalah Jafar Zaker, yang tewas dalam perang Iran-Irak.  Abbas Abdi, seorang pemimpin aksi di kedutaan, mengatakan bahwa Ahmadinejad tidak terlibat, meski ketika kedutaan telah diduduki, Ahmadinejad ingin berada disana.
Ahmadinejad sendiri tidak memberikan peryataan, meski ketika berhadapan denga seorang wartawan New York Times  diluar rumahnya, dua hari setelah berita tersebar, ia menyangkal keterlibatannya dalam penyendaraan tersebut. “Ini tidak benar. Ini hanya kabar burung,” katanya dari dalam mobil yang membawanya pergi.  Ia juga pernah diwawancarai Christine Amanpour dari CNN sekali lagi ia menyangkal keterlibatannya dalam penyaderaan.
Ahmadinejad: begini saya juga mendengar kabar berupa ketika abru terpilih dan sebagaimana Anda ketahui, sejujurnya saya tertawa. Mungkin ingatan saya telah dihapus dan diganti dengan yang baru. Saya bingung, entah dari mana mereka bisa menarik kesimpulan seperti itu. Dulu saya tidak memelihara janggut seperti sekarang.
Amanpour: jadi anda tidak terlibat?
Ahmadinejad: tidak, tidak seperti itu. Saya dahlu tidak terlibat.
Apapun yang sesungguhnya terjadi, pembuktian terakhir justru datang dari sumber mengejutkan: CIA. Setelah menganalisis foto controversial itu, badan intelijen AS itu menyatakan dengan tegas bahwa sosok berjanggut itu bukanlah Mahmoud Ahmadinejad.
Di Maku, Ahmadinejad seperti dijebloskan kedalam sumur tanpa dasar. Saat itu dia baru berusia 24 tahun. Pemuda berbahasa Persia ini ditugasi menggalang persekutuandengan warga Syiah denga berbahasa  Turki, menjamin keamanaan warga Sunni berbahsa Kurdi dan bekerjasama dengan Pengawal Revolusi yang kuat serta pasukan keamanan untuk mengusir kelompok-kelompok Kurdi bersenjata dari distrik itu. Ini bukan situasi yang mudah dalam situasi politik pada waktu itu, di tengah pemberontakan Kurdi yang menuntut otonomi. Ia harus pergi ke masjid-masjid Syiah untuk meyakinkan warga Syiah  bahwa pemerinyah di pihak mereka dan ia juga harus menemui warga Kurdi yang curiga di masjid-masjid Sunni untuk mengatakan bahwa Revolusi Islam itu milik seluruh rayat Iran. Tetapi ia juga harus membantu mengorganisasikan perlawanan terhadap kekuatan bersenjata Partai Demokrasi Kurdistan yangmenguasaijalanan menuju kota kecuali dalam beberapa jam di siang hari.  Sementara Ahmadinejad masih berusaha menyesuaikan diri dengaan pekerjannya, pada bulan September 1980 pasukan Sadam Hussein melancarkan serangan mendadak dan memasuki wilayah Iran dari daerah selatan perbatasan kedua Negara tersebut. Pasukan Irak yang tak menemui perlawanan terorganisasi berhasil masuk ke pedalaman Iran, menguasai daerah-daerah di provinsi Khuzestan yang banyak dihuni etnis keturunan Arab. Pasukan Irak memulai tekanan lewat serangan udara yang menghancurkan bandara Teheran pada Minggu, 21 September 1980.
Di kawasan suku Kurdi tempat Ahmadinejad bertugas, pecahnya perang Iran-Irak membuka kesempatan bagi kelompok perlawanan Kurdi (Kurdish Peshmergas) untuk menyerang balik pasukan pemerintah dikawasan itu. Dalam pandangan mereka, wilayah-wilayah Kurdi  di Iran dan Irak bisa menjadi awal pendirian Negara merdeka , lantas ahirnya semua wilayah Kurdi di selatan Turki dan timur Suriah bersama-sama bergabung. Sekrang Ahmadinejad menjadi bagian kampanye politik maupun militer untuk mencegah penyebaran perang Iran-Irak ke sector utara perbatasan kedua negeri, sambil terus melawan pemberontakan Kurdi di dalam negeri. Pemberontakan Kurdi baru berhasil dipadamkan pada tahun 1983. Namun bayarannya pemerintah harus lebih dulu mengirimribuan personil pasukan, dan kelompok perlawan Kurdi tewas dalam pertempuran atau dihukum mati.
            Operasi milter terbesar dan paling berhasil yang dilakukan Pasukan Khusus Pengawal Revolusi di bawah kendali Markas Ramazan ialah penyusupan sejauh 180km ke wilayah Kurdistan Irak untuk meledakan klang minyak Kirkuk. Serangan itu berhasil mengacaukan pasokan bahan bakar bagi angkatan perang Saddam Hussein. Operasi Kirkuk dilaksanakan pada Jumat, 18 September 1987. Penggunaan senjata kimia oleh Irak membuat moral baik prajurit maupun warga sipil Iran merosot sampai ke tinggkat yang paling rendah sementara para pendukung Saddam Hussein di negara-negara Barat pura-pura tidak tahu.
            Bagi Ahnadinejad, Kirkuk merupakan operasi paling berbahaya yang pernah ikuti. Keterlibatan Ahmadinejad dalam perang Iran-Irak telah menciptakan akses kepada individu-individu yang belakanganmenjdai elite politik Irak dan dalam prosesnya menyediakan tilikan yang bernilai terhadap cara kerja politik Irak, yang semuanya terbukti berguna setelah tahun 2003.
Dalam politik seperti ini, Ahmadinejad berhasil meniti karier di barisan sayap kanan. Ia memilki bukti yang menunjukkan bahwa dirinya seorang revolusioner sejati. Sebagai mantan gubernur jendral. Ia telah menekankan kemurnian dan keunggulan Islamdalam politik dan masyarakat.  Ia pernah menjalin kerjasama dengan pengawal Revolusi pada masa-masa perang, dan selama itu, sejak hari-hari pertama Revolusi Islam, ia telah menjadi ujung tombak dan aktivis bagi kelompok Islam garis keras. Dewa kota Teheran memiliki lima belas kursi untuk anggota terpilih dan enam kursi untuk anggota cadangan.
Partai lain yang mengajukan Ahmadinejad sebagai calon adalah Partai Peradapan Islam, sebuah kelompok baru yang juga tidak terlalu menonjolkan symbol-simbol Islam. Sekali lagi manifesto politik partai ini tidak menyebutkan Islam, kecuali dalam nama partai. Mereka memperkenalkan sebagai Dr. Ahmadinejad, dengan gelar Ph.D. dalam bidang teknik sipil. Ahmadinejad tahu banyak orang akan sulit tertarik kepada calon dengan gelar Ph.D. dalam bidang lebih tidak popular, tranportasi.
Akan tetapi, dalam pemilihan tahun itu kelompok reformis berhasil merebut sebagian besar jumlah kursi parlemen. Pengalaman pemilu pertama Ahmadinejad di tingkat kota pun bukan pengalaman membahagiakan. Dari 100.000 orang pemilih yang memenuhi syarat, Ahmadinejad hanya mendapatkan posisike-23. Sementara 15 orang di urutan teratas berhasil melenggang ke dewan kota Teheran, dan enam berikutnya duduk di kursi cadangan, upaya pertama Ahmadinejad dalam pemilihan berakhir dengan kegagalan. Tetapi orang pertama dalam urutan daftar tiga puluh orang kandidat yang akan memperebutkan tiga puluh kursi di parlemen dari Teheran adalah Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, bakal pesaing dan lawan Ahmadinejad.
Salah satu partai yang mencalonkan Ahmadinejad ialah partai peradapan Islam, yang telah muncul ke panggung politik dalam pemilihan umum tingkat daerah setahun sebelumnya. Partai ini menampilkan platform sebagai kelompok yang memperjuangkan ”pembangunan” masyarakat, menyelenggarakan manajemen yang progresif untuk negeri, berjuang membela nilai-nilai masyarakat, dan berupaya “mengorbankan semangat” bangsa. Pada hari pemilihan, wajar bila sebagian besar rakyat Iran memilih kelompok reformis yang kembali memenangi mayoritas kursi untuk perwakilan Teheran dan provinsi-provinsi lain. Kaum konservatif Islam garis keras sekali lagi terenyak.  Yang lebih memalukan ialah kandidat teratas mereka, Rafsanjani, hanya berhasil memduduki posisi ke-29, dan nyaris tidak terpilih sama sekali.
Perolehan suara Ahmadinejad jauh sekali dari perolehan suara tiga puluh calon teratas yang bisa menduduki tiga puluh kursi perwakilan Teheran di perlemen. Ia dan rekan-rekan koservatifnya terpaksa menjalani kampanye menyedihkan dalam masa persiapan pemilihan umum dengan rapat-rapat yang sepi pengunjung.
Selama berbulan-bulan, Ahmadinejad dan sejumlah anggota kelompok konservatif lebih muda secara berkala bertemu untuk membahas dan menganalis posisi kelompok konservatif religious dalam perkembangan politik di negerinya. Pemilihan umum dewan daerah pada tanggal 28 Ferbruari 2003 diselenggarakan ketika dukungan terhadap kelompok-kelompok reformis sedang berada di titik rendah. Dewan daerah Teheran, yang sebelumnya didominasi oleh kelompok reformis, menjadi panggung persaingan tak sehat dan secara politik melumpuhkan faksi-faksi reformis, membuat kinerja dewan infektif. Di tingkat nasional, Presiden Khatami, para reformis di sekelilingnya, dan mereka yang berbeda di parlemen, melakukan serangkaian kesalahan penilaian ketika mereka menghadapi tekanan dari kelompok-kelompok Islam garis keras, membuat banyak orang yang telah memilih mereka merasa khawatir bahkan seolah-olah tertipu.
Pada pemilihan umum dewan daerah sebelumnya, 1,4 juta pemilik di Teheran telah menggunakan hak mereka, sedangkan dalam pemilihan umum dewan daerah terakhir hanya 5,6 juta pemilih yang memberikan suara. Di tingkat nasional hanya 16 juta dari 41 juta pemilih telah menggunakan hak pilih, dibanding 34 juta dalam tahun 1999. Di Teheran sendiri hanya 12 persen pemilih memberikan suara mereka-angka yang paling rendah sejak Revolusi. Banyak diantara rakyat Iran telah bosan terhadap permainan politik yang memanfaatkan nama Islam.
            Pengalaman dan prestasi politik Ahmadinejad begitu sedikit, sehingga bahkan di Taheran pun kota tempat ia menjadi walikota selama dua tahun-ia tak begitu dikenal. Mereka yang mengenal Ahmadinejad pun hanya ingat pada usulan kontroversialnya untuk memakamkan jasad syuhada Perang Iran-Irak di “tempat semestinya”, yaitu alun-alun dan taman kota Taheran yang padat pengunjung. Sedemikian sepi kampanye Ahmadinejad, dan begitu mustahil peluang calon yang satu ini untuk menang, maka hanya sedikit wartawan baik dalam maupun luar negeri yang meliput pemilihan umum ini cukup peduli untuk menyebut namanya dalam pemberitaan mereka. Tidak ada satu surat kabar pun, partai atau organisasi politik yang mendukung Ahmadinejad dalam usahanya meraih jabatan tertinggi di pemerintahan ini. Selain Ahmadinejad, ada tiga calon lain dari kelompok Islam sayap kanan, dan semua komentator politik serta masyarakat awam beranggapan bahwa salah satu dari tiga calon itu mempunyai jauh lebih sukses dalam pemilihan.
            Bahkan teman-teman dekat Ahmadinejad di Jamiat e Isargaran tidak mendukungnya dalam kampanye pemilihan dan lebih memilih calon kelompok Islam lain. Begitu pula Asosiasi Insinyur Islam, meski dibentuk sendiri oleh Ahmadinejad. Dewan Koordinasi diketuai Ali Akbar Nategh Nouri, mantan calon presiden sebelumnya dan teman lama Ahmadinejad juga tidak mendukung beliau. Ahmadinejad bahkan tidak memperoleh dukungan dari sekutu-sekutupolitik terdekatnya. Organisasi politik konsevatif Abadgaran, yang telah dia bantu sampai meraih kemenangan dalam pemilihan dewan pada tahun 2003, lebih memilih calon lain. Padahal Ahmadinejad telah menggunakan pengaruh dan segala sumberdaya yang ada di pemerintah kota. Lima puluh anggota parlemen yang pernah memperoleh bantuan dari Ahmadinejad malahan mengeluarkan pernyataan yang isinya mengimbau agar Ahmadinejad mundur dari ajang pemilihan.
            Karena mereka menganggap Ahmadinejad tidak punya peluang untuk terpilih dan hanya akan memecah-mecah suara bagi calon-calon kelompok Islam. Setiap surat kabar Iran telah memiliki calon-calon favorit, mereka bahkan banyak di antara mereka merupakan sekedar perpanjangan lidah dari beragam kelompok Islam yang membawa pandangan politik masing-masing. Namun tak ada yang memilih Ahmadinejad. Dalam msa menjelang pemilihan umum, Rafsanjani dipastikan meraih dukungan paling banyak. Kantor berita Iran yang reformis, ISNA,menggalar jajak pendapat terhadap delapan orang calon di Teheran dan dua belas kota lain, mendapati Rafsanjani unggul 19,1%, diikuti calon garis keras Qalibaf yang mendapatkan 9,5%, dan calon reformis Moin mendapatkan 6%. Sementara Ahmadinejad hanya menduduki posisi kedua dari bawah, dengan perolehan suara 2,8%.
            Satu-satunya pertanyaan yang diajukan masyarakat dan para komentator politik ialah kapan Ahmadinejad kan mengundurkan diri dari ajang pemilihan presiden dan merelakan suaranya kepada calon sayap kanan yang lebih pantas. Bahkan rekan terdekat Ahmainejad yang juga menjabat ketua Dewan kota Teheran, Mehdi Chamran, enggan menjanjikan Ahmadinejad tetap mengikuti pemilihan. “Banyak desakan agar Ahmadinejad mengundurkan diri. Semua orang ingin ia keluar dari ajang pemilihan presiden, tetapi ia belum siap untuk pergi, kata Chamran. Ahmadinejad mulai kesal dengan laporan terus-menerus bahwa ia akan menarik diri. “Saya telah menyangkal, tetapi setiap hari selalu ada orang yang mengatakan kepada media bahwa saya akan mundur. Saya akan tetap bertahan sampai akhri. Pilihan ada ditangan rakyat,” kata Ahmadinejad. Ia bersikukuh. Bukan hanya akan bertahan dalam ajang pemilihan, tetapi ia juga yakin akan menang.
            Diam-diam, Ahmadinejad menikmati dukungan dari sejumlah tokoh paling berpengaruh dalam politik Iran. Orang-orang ini antara lain seksi-seksi penting dalam Barisan Pengawal Revolusi, sukarelawan Basij, serta Majelis Wali. Ia juga didukung oleh Institut Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini di Qom, pimpinan mentor spiritualnya,    Ayatullah Mohammad Taqi Mesbah-yazdi. Dan yang paling penting, belakangan terungkap bahwa Ahmadinejad merupakan calon yang lebih disukai oleh       Pemimpin Agung Ayatullah Khamenei. Sungguh di luar dugaan, seorang calon yang tidak didukung partai-partai politik dan tampak tak punya harapan, ternyata secara sembunyi-sembunyi merupakan pilihan utama kelompok religius yang berkuasa, lembaga-lembaga mereka, dan kekuatan bersenjata mereka.
Kontroversi telah mewaranai hari-hari menjelang pemilihan umum. Para calon diluar kelompok  Islam telah disingkirkan sejak awal dari ajang pertaruangan oleh Majelis Wali. Majelis ini berfungsi sebagai penjaga kelompok konservvatif yang sah berdasarkan undangan-undangan dasar. Hampir 42 juta orang mempunyai hak pilih dalam pemilihan umum presiden pada tanggal 17 juni untuk mencari pengganti Presiden Mahmoud Khatami. Dia tokoh berwatak lembut, namun inefektif dalam membela reformasi. Di ujung spectrum lain, Ahmadinejad dan para calon lain dari kelompok garis keras memandang pemilihan presiden ini sebagai kesempatan untuk lembaga eksekutif, satu-satunya bagian dalam pemerintahan yang belum berhasil mereka kuasai.
Mereka ingin menghapus sejumlah kebijakan liberalisasi yang telah dikeluarkan oleh presiden Khitami, menghentikan proses kelonggaran social, dan semua kemungkinan rekonsiliasi dengan Amerika Serikat. Bila berhasil menguasai lembaga eksekutif, mereka percaya bisa mencetak Iran menjadi masyarakat ideal menurut mereka, yakni masyarakat Islam semi militer yang akan menyebarkan pengaruh revolusi Islam keluar Iran.
Sebagai kawan lama Ayatullah Ruhollah Khomeini, Rafsanjani merupakan salah satu dari hanya sedikit orang yang telah membantu mengarahkan rezim Islam, melewati tahun-tahun awal revolusi yang penuh darah dan pergolakan, termasuk melewati perang melelahkan melawan Irak selama delapan tahun. Rafsanjani ingin membantu sector swasta mengambil peran lebih besar dari perekonomian.Ia juga ingin melanjutkan kebijakan internasional Khatami, yang telah meningkatkan hubungan Iran dengan banyak Negara lain. Karena reputasinya  sebagai seorang juru runding, para pemimpin Negara barat mengharapkan Rafsanjani bisa mempunyai pengaruh dan kekuasaan untuk mengendalikan kekuatan politik garis keras ekstrem dan mendorong kesepakatan baru dengan Negara-negara barat mengenai masalah nuklir.
Pada waktu bersamaan, ia membuat pesaing-pesaingnya tersinggung ketika berulang-ulang mengatakan bahwa ia terpaksa mengajukan diri karena tidak ada calon lain yang pantas. Diantara keempat calon dari kelompok garis keras, calo paling berbahayaialah Mahmoud Baqer Qalibaf. Kepala kepolisian Teheran berusia 43 tahu itu diyakini merupakan pilhan utama Ayatullah Khamenei. setelah kampanye mulai, semuanya menjadi jelas. Qalibaf ternyata membidik dukungan dari kalangan pemilih usia muda. Qalibaf memang berbakat menarik perhatian masyarakat.
            Hampir semua orang mengatakan bahwa peluang Ahmadinejad sudah tertup. Tapi semakin berat dia harus menghadapi rintangan, justru membuat sang waliota Teheran lebih agresif dan melakukan retorika militer.  Dua tahun sebelumnya, pada tahun 2003, Ahmadinejad telah membantu memastikan kemenangan kelompok neokonservatif Abadgaran dalam pemilihan umum dewan daerah. Semboyan kampanye Ahmadinejad  ialah “KITA BISA”, seolah-olah rakyat Iran sedang menderita krisis percaya diri sehingga perlu disemangati.
Acara kampanye Ahmadinejad hampir selalu dibuka oleh seorang laki-laki yang melantunkan lagu rohani bernada sendu tentang para syuhada dan para imam yakni orang-orang suci mazhab syiah yang telah mengalami penganiayaan dalam masa awal perkembangan Islam. Kemudian ia menjelaskan tujuannya yaitu, meletakkan dasar pembentukan sebuah gerakan Islam dunia dengan cara mewujudkan pemerintahan Islam di Iran sebagai model. Ia menyatakan bahwa perwujudan pemerintahan seperti itu merupakan cita-cita Nabi Muhammad, iman, para syuhada, dan semua muslim.
Pemungutan suara dilakukan pada Jumat, 17 Juni 2005. Esok paginya, sewaktu hasil penghitungan suara dilaporkan secara langsung melalui televise Negara, sesuatu yang sangat aneh terjadi. Enam juta suara ini betul-betul mengubah hasil pemilihan umum. Melalui televisi Negara, hari itu seorang wartawan melaporkan dari kantor pusat pemilihan umum. Menurut Majelis Wali, lebih dari 21 juta suara telah dihitung dan Rafsanjani memimpin perolehan suara, diikuti Ahmadinejad. Ini aneh dan jelas merupakan kejutan besar bagi banyak orang. Akan  tetapi yang terjadi selanjutnya lebih aneh lagi. Hanya dalam hitungan menit, laporan lain disiarkan mengulang sebuah pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri bahwa 15 juta suara.
Hasil penghitungan ini tampak lebih mirip dengan hasil-hasil jajak pendapat sebelum hari pemilihan umum dan perkiran media yang meliputi pemilihan umum presiden. Pada saat bersama semua calon kecuali Ahmadinejad menyatakan ketidakpuasan. Karroubi, yang pada jajak pendapat diperkirakan akan menjadi pesaing Rafsanjani pada putaran kedua, mencurigai adanya kecurangan besar-besaran dalam pemungutan suara. “Dengan bantuan Yang Maha Kuasa, saya tak membiarkan ini terjadi,” kata Ayatullah dalam pesan lisan melalui ajudannya. Rafsanjani, pemenang putaran pertama, mengungkapkan keraguannya soal kesahihan pemilihan umum yang baru berlalu dan menyatakan bahwa suara rakyat telah dimanipulasi. Menteri Dalam Negeri Abdul-Vahed Mausavi Lari, pejabat tertinggi kementrian yang bertanggung jawab atas pemungutan suara ,juga menggemarkan tuduhan soal kecurangan. Ia menyatakan bahwa “organ-organ militer” telah menerima tugas pengawasan dalam pemilihan dengan tujuan mempengaruhinya.
            Menurut sumber-sumber tepercaya, sesungguhnya hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara diselenggarakan, akhir pemilihan umum telah di tentukan dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di kediaman Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Khamenei.
            Pertemuan itu menetapkan bahwa Ahmadinejadlah yang harus diberi dukungan, bukan Qalibaf. Alasan keputusan itu ialah laporan kepada pemimpin Agung  yang kemudian membuat   Qalibaf diragukan kepatutannya untuk menjadi seorang presiden.
            pada sabtu, 24 Juni satu hari setelah pemilihan putaran kedua, para pendukung Ahmadinejad bersuka cita. Hasil perhitungan suara menegaskan bahwa calon mereka memperoleh kemenangan telak, member tamparan memalukan kepada Rafsanjani dan membuka bab baru dalam sejarah pergolakan Iran pasca-Revolusi.
            Ketika kemenangannya ditegaskan Ahmadinejad menyampaikan pidato yang di luar dugaan sangat murah hati dan bersemangat perdamaian. Ia berjanji untuk “membangun masyarakat Islam yang maju, kuat dan bisa menjadi teladan”. Hari ini, semua persaingan harus diubah menjadi persahabatan.
Progam pengayaan uranium Iran masih ditunda ketika Mahmoud Ahmadinejad memenangi pemilihan presiden di bulan Juni 2005. Jelas bahwa penghentian itu tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Negara-negara Barat selalu memperhatikan pergantian kekuasaan di Timur Tengah, tetapi pemilihan presiden Iran tahun 2005 jauh lebih penting dalam kaitannya dengan masalah nuklir.
Ahmadinejad tampak entah abai atas kesulitan Iran atau percaya bahwa keberanian merupakan cara untuk meraih hati dan pikiran para pemilih. “ Saya menolak anggapan bahwa masalah nuklir telah menciptakan kritis untuk negeri ini. Krisis apa? Teknologi nuklir itu hak kita dan tak seorang pun bisa mencabutnya dari kita. Kita telah melangkah sampai sejauh ini, maka atas seizing Allah, kita tinggal perlu selangkah lagi.
Sejak hari pertama kepresidenannya, nuklir langsung menjadi masalah utama. Ahmadinejad dan para pendukung Islam garis keras bertekad menghidupkan kembali program pengayaan uranium. Begitu dia terpilih, Iran secara resmi meminta IAEA mencabut segel mesin-mesin Fasilitas Konversi Uranium Isfahan.
Ahmadinejad telah dengan tegas menyatakan ia ingin perubahan menyeluruh dalam tim perundingan. Ia ingin tim baru itu menegakkan “sikap berani dan pantang mundur dalam masalah nuklir”. Sekarang masalah nuklir tampak telah berubah menjadi krisis nuklir. Usulan-usulan telah ditolak. Perundingan ditekankan oleh tim garis keras Iran yang baru. Konflik militer agaknya sulit dihindari. Dalam situasi inilah Ahmadinejad pergi ke New York untuk berpidato di depan Majelis Umum PBB dalam bulan September 2005. Pidatonya disampaikan setelah ditunda selama 11 jam.
Pidatonya merupakan gabungan aneh antara kepalsuan dan sifat agresif. Dia mengulang peryataan bahwa progam nuklir Iran bersifat damai dan menyerang upaya kekuatan asing untuk mencegah Iran melakukan pengayaan uranium sebagi kebijakan “apartheid nuklir”. Dia mengancam serius dengan ambisi senjata nuklirnya bila tekanan terhadap Iran masih berlanjut. Andai pidatonya ini memang sengaja untuk meredakan krisis, Ahmadinejad betul-betul gagal.
Ahmadinejad kembali ke Teheran tepat ketika pertemuan dewan IAEA yang membicarakan usulan-usulan Iran baru dimulai. AS dan beberapa Negara Eropa mendukung rencana untuk secepatnya melaporkan Iran ke Dewan Keamanan, tetapi gagasan mereka memperoleh ganjalan dari Rusia, Cina dan sejumlah Negara anggota Gerakan Non-Blok yang masih ingin membuka peluang untuk diplomasi.
Kunjungan Ahmadinejad ke New York gagal, baik secara diplomasi, politik maupun dari segi humas. Minimal, begitulah pandangan Negara-negara Barat. Akan tetapi di Iran sang Presiden disambut sebagai pahlawan. Ahmadinej kalaupun ada orang dan penganut  keras sedang berjaya. Kalaupun ada orang di Iran berharap akal sehat akan menang, perkembangan ini tak menampakkan titik terang.
Sikap keras kepala Ahmadinejad dalam perkara nuklir membuat sebagian orang di Teheran percaya bahwa ia dan kelompok militer nakepada renzim. Barangkali justru bertujuan untuk membuat AS batal menyerang Iran, karena berfikir bahwa serangan itu dapat menggalang dukungan kepada renzim.
Ahmadinejad percaya bahwa mereka yang beriman kepada Allah mustahil dikalahkan. Buat mereka yang dekat dirinya, ia sosok paling tahu –ia keajaibanmilenium ketiga. Ahmadinejad mampu menghadirkan keajaiban yang sering tampak oleh makhluk fana. Ia sedang dalam misi mengubah dunia, tidak hanya Iran, dan ia siap untuk berperang – andai dia perlu.
DAFTAR PUSTAKA

Naji Kasra. Ahmadinejad kisah rahasia sang Pemimpin Radikal Iran.Jakarta:  Kepustakaan Populer Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar