Rabu, 20 April 2016

BIOGRAFI AMIEN RAIS



                                                         I. RINGKASAN ISI BUKU

I.I Kisah Keluarga
AMIEN RAIS lahir di Solo, 26 April 1944, dari sebuah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya,adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor departemen agama. Sang Ibu, Sudalmiyah juga dikenal sebagai seorang guru yang ulet. Dia mengajar di sekolah guru kepandaian putri (SGKP) negeri dan sekolah bidan Aisyiyah Surakarta. Karena prestasinya di dunia pendidikan, pada tahun 1985, Sudalmiyah mendapat gelar  ibu teladan sejawa tengah. Dia juga aktif di partai politik Masyumi ketika masa jayanya pada tahun 1950an. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo,dalah salah seorang pendiri muhammadiyah di gombong, jawa tengah. Jadi Amien Rais dilahirkan dari keluarga yang sangat kental warna muhammadiyahnya.
Amien merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya adalah Fatimah, dan empat adiknya adiknya  adalah abdul rozak, achmad dahlan, siti aisyah, dan siti asyiah. Mereka tumbuh dan dibesarkan di kampung kepatihan kulon. Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang ibu. Walaupun legas, tetapi yang ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh secara alam, sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.
Sewaktu masih duduk dibangku SD, Amien kecil bercita-cita menjadi wali kota. Cita-cita ini sangat dipengaruhi oleh kekagumannya pada Muhammad Saleh yang menjabat wali kota solo waktu itu. Muhammad Saleh adalah seorang muslim yang taat. Dia sering memberikan pengajian di balai muhammadiyah solo. Wali kota asal Madura ini sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Namun setelah SMA, cita-cita Amien berubah. Dia ingin jadi duta besar. Mungkin cita-cita ini yang ikut memengaruhinya untuk memilih jurusan hubungan internasional ketika memasuki perguruan tinggi.
Amien Rais menikah pada 9 februari  1969, dengan seorang gadis yang sudah dikenalinya sejak mereka masih sama-sama kanak-kanak, Kusnasriyati Sri Rahayu. Selama sepuluh tahun pertama pernikahannya dia belum dikaruniai anak, meskipun dia sudah berkonsultasi dengan banyak dokter spesialis kandungan di Solo, Yogya, bahkan ketika berada di Chicago. Sampai suatu saat mereka bedua mendapat kesempatan naik haji ke Mekah. Di depan Kabah mereka berdua memanjatkan doa, memohon kepada Allah agar memenuhi keinginan mereka akan keturunan. Waktu itu mereka sedang melakukan penelitian di Mesir. Setelah kembali ke Kairo, dua bulan kemudian sang istri hamil. Bagi mereka berdua, kejadian itu merupakan mukjizat dan karunia Allah semata. Setelah anak yang pertama, selanjutnya setiap dua tahun sang istri hamil lagi. Kini mereka sudah dikaruniai lima orang anak, tiga putra dan dua putrid. Nama-nama mereka diambil dari Al-Quran dan dikaitkan dengan kenangan dan pristiwa yang menyertai kelahirannya. Yang pertama diberi nama Ahmad Hanafi, kemudian Hanun Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan terakhir Ahmad Baihaki.
Kusnasriyati adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Untuk mengisi kesibukannya, dia mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) di sebelah rumahnya. Karena ketekunannya, TK ini menjadi besar dan terkenal. Dia juga membuka kedai sederhana yang diminati banyak mahasiswa. Dilihat dari penampilannya yang sederhana, termasuk gaya bicara yang sederhana, dia tidak beda dengan ibu rumah tangga lainnya. Tetapi, dimata Amien Rais, dia adalah wanita luar biasa. Keberanian dan ketegaran yang dimiliki Amien Rais ternyata tidak lepas dari peran sang istri. 
             
I.II Riwayat Pendidikan
Pendidikan Amien Rais, mulai dari TK sampai SMA, semuanya dijalani di sekolah Muhammadiyah, di kota kelahirannya, Solo. Menurut Amien, karena kecintaan sang ibu pada sekolah Muhammadiyah, maka seandainya ketika itu sudah ada perguruan tinggi Muhammadiyah, pasti ibunya akan memintanya untuk kuliah di situ. Sekolah Dasar diselesaikan tahun 1956, kemudian SMP pada tahun 1959 dan SMA pada tahun 1962. Disamping sekolah umum, dia juga mengikuti pendidikan agama di pesantren Mambaul Ulum. Dia juga pernah nyantri di Pesantren Al Islam.
Setelah tamat SMA, dia melanjutkan studinya di Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM). Dalam waktu yang bersamaan. Dia juga terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kuliah paralel ini dijalaninya sampai munculnya larangan kuliah ganda oleh pemerintah.
Tahun 1968 Amien menyelesaikan studinya di UGM dengan tugas akhir berjudul Mengapa Politik Luar Negeri Israel Berorientasi Pro Barat. Dia lulus dengan nilai A. kemudian dia melanjutkan pendidikan pascasarjana di university of Notre Dame, Indiana, yang diselesaikan tahun 1974 dengan gelar MA. Tesisnya mengenai politik luar negeri   Anwar Sadat yang waktu itu sangat dekat dengan Moskow. Itu sebabnya Amien juga harus mendalami masalah komunisme, Uni Soviet, dan Eropa Timur. Minatnya yang sangat besar dalam masalah timur tengah tetap tumbuh. Setelah pulang ketenah air sebentar, dia kembali lagi ke Amerika untuk mengikuti program Doktor di university of Chicago dengan mengambil bidang studi timurtengah. Dia berhasil meraih gelar doctor padatahun 1981, dengan disertasi berjudul The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise and Resurgence (Ikhwanul Muslimin di Mesir : Kelahiran,Keruntuhan,dan Kebangkitannya kembali). Penelitian untuk menyusun disertasinya dilakukan di Mesir dalam waktu sekitar satu tahun. Selama berada di Mesir, waktunya dimanfaatkan juga untuk menjadi mahasiswa luar biasa di Departemen Bahasa Universitas Al-Azhar, Kairo.
Setelah menyelesaikan studinya, dia kembali ke almamaternya. Dia mengasuh mata kuliah Teori Politik Internasional, Sejarah, dan Diplomasi di Timur Tengah. Dia juga dipercaya mengajar mata kuliah teori-teori Sosialisme. Yang paling menyenangkannya adalah   mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik.

I.III  Sebagai Aktivis
Sejak belia Amien Rais sudah terlibat dalam berbagai gerakan. Kecintaannya pada organisasi diawali dari  keterlibatannya di pandu Hizbul Wathon. Dia dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin sebuah regu yang terdiri dari tujuh orang yang diberi nama regu Rajawali. Regu yang dipimpinnya selalu memenangkan barbagai perlombaan, seperti lomba tali-temali, morse, membuat jembatan, sampai pada lomba masak-memasak. Di sinilah Amien kecil mulai menyadari kekuatan kebersamaan dan makna kepemimpinan. Ketika menjadi mahasiswa, dia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan pernah dipercaya untuk menduduki jabatan sekertaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) HMI Yogyakarta.
Disamping kegandrungannya berorganisasi, Amien Rais juga sudah menulis artikel sejak belia. Berkat ketekunannya di dunia Jurnalistik, oleh tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung bersama-sama dengan Harian Kami di Jakarta, dia pernah mendapat anugrah Zainal Zakse Award.
Sepulang dari studi di Amerika tahun 1981, Amien Rais kembali  ke habitatnya di Muhammadiyah. Pengaruh pemikirannya cepat meluas, tidak hanya dikalangan Muhammadiyah tetapi juga menerobos dunia kampus dan aktivis masjid. Pada saat itu, dia tergolong Intelektual muda Islam yang bergelar Doktor sains modern yang fasih berbicara mengenai wacana keagamaan. Berbagai pemikirannya segera menjadi bahan diskusi dan rujukan generasi muda kampus, khususnya dikalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).
Aktifitas Amien di Muhammadiyah semakin intens setelah Muktamar Muhammadiyah  ke-41 di Surakarta (1985). Saat itu, dia dipercaya sebagai ketua Majelis Tablig. Tahun 1988 dia dipercaya menjadi ketua pusat pengkajian strategi dan kebijakan (PPSK). PPSK merupakan lembaga kajian yang cukup bergengsi. Selanjutnya, Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta (1990) mengantarkannya sebagai salah seorang wakil ketua PP Muhammadiyah. Ketika ketua PP Muhammadiyah K.H. Achmad Azhar Basyir meninggal dunia (28 juni 1994), Amien ditetapkan sebagai pejabat ketua oleh pleno PP Muhammadiyah, menggantikan Almarhum. Selanjutnya pada Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh (1995), Amien terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah (1995-2000), dengan dukungan suara 98.5%.
Terpilihnya Amien sebagai orang nomor satu di Muhammadiyah menjadi fenomena yang menarik. Tampilnya Amien menandai pergeseran pola kepemimpinan yang cukup signifikan, dari figur ulama/kiai kepada cendikiawan/intelektual. Sejak berdirinya, Muhammadiyah selalu dipimpin oleh tokoh kiai atau ulama. Mulai dari K.H. Ahmad Dahlan sampai dengan K.H. Achmad Azhar Basyir, semuanya adalah figur ulama. Amien Rais, ketua Muhammadiyah ke-13, adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan bukan agama, sehingga dia lebih dikenal sebagai seorang cendikiawan dari pada seorang ulama/kiai.
Kelahiran Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) tidak dapat dilepaskan dari peran Amien Rais. Dia masuk tim persiapan pendirian ICMI bersama Sembilan cendekiawan lainnya, antara lain Muslimin Nasution, Dawam Rahardjo, Sri Bintang Pamungkas, Djamaluddin Ancok, dan Ahmad Watik Pratiknya. Bahkan, jauh hari sebelum ICMI menemukan bentuknya, ketika para mahasiswa dari Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang, berjuang mengumpulkan tanda tangan dalam rangka mencari dukungan bagi rencana mereka mendirikan wadah bagi cendekiawan muslim Indonesia, Amien sudah terlibat. Ketika anak-anak itu menemui Dawam Rahardjo di Jakarta, mereka disarankan Dawam untuk ke Yogyakarta sembari berpesan, “kalau ke Yogya, cari saja Amien Rais, karena dialah the godfather-nya cendekiawan Yogya. Kalau Amien ikut, yang lainnya akan katut  (ikut serta).”
Saat ICMI resmi terbentuk, Amien ditunjuk sebagai salah seorang asisten ketua umum bersama H. Muhammad Thohir, Moestahid Astari, Haryono Dhanutirto, Quraish Sihab, Amin Aziz. Kemudian, saat terjadi restrukturisasi organisasi, Amien dipercaya untuk menjabat ketua dewan pakar, sebuah jabatan yang sangat strategis dan bergengsi. Di sini dia bergaul dekat dengan Ahmad Tirtosudiro dan Sayidiman Suryohadiprojo, dua orang jenderal (purnawirawan) yang cukup berpengaruh. Dia juga bergaul dengan beberapa orang menteri, seperti Wardiman dan Haryanto Dhanutirto, disamping para pengusaha nasional, seperti Fadel Muhammad dan Aburizal Bakrie. Hubungannya dengan Yusuf Hasyim, seorang tokoh senior NU yang juga paman Gus Dur, semakin dekat. Dia juga menjadi bersahabat dengan Habibie, sang ketua Umum. Dia sering bertandang ke rumah Habibie, bahkan dia sempat mendampingi Habibie dalam kunjungan ke Paris dan beberapa Negara Timur Tengah, yang ketika itu masih sebagai Menristek.
Kareana menyadari adanya tekanan yang sangat kuat dari pak Harto pada Habibie, akhirnya Amien memutuskan untuk mundur dari jabatan ketua dewan pakar ICMI. Dua bulan setelah pak Harto lengser, tepatnya 18 juli 1998, dalam Rakornas ICMI, bertempat di Hotel Cempaka Jakarta, Amien Rais dikukuhkan kembali menjadi ketua Dewan Pakar ICMI. Ahmad Tirtosudiro selaku pejabat ketua ICMI menjelaskan bahwa meskipun Amien telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan ketua dewan pakar, tetapi ICMI tidak pernah memprosesnya, sehingga jabatan tersebut tetap dibiarkan kosong. Saat ini, Dewan Pakar ICMI menegaskan menolak pengunduran dirinya.
Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) adalah lembega pengkajian dan penelitian dibawah yayasan mulia Bangsa Yogyakarta. Sejumlah tokoh penting bergabung dilembaga ini, diantaranya Moeljoto Djojomartono, Soedjatmoko, Ahmad Baiquni, Kuntowijoyo, Bambang Sudibyo, Umar Anggara Jenie, Ichlasul Amal, Yahya A. Muhaimin, Affan Gafar, A. Syafii Maarif, dan Amien Rais yang dipercaya untuk memimpinnya.
Setelah Pak Soeharto lengser, dengan pernyataan “berhenti” dari jabatan Presiden Republik Indonesia, pada 21 Mei 1998, Prof. Dr. B. J.  Habibie dilantik menjadi Presiden RI ketiga. Sebenarnya, hati kecil Amien Rais ingin kembali ke Muhammadiyah, untuk menekuni kegiatan Dakwah, pendidikan, dan Sosial. Akan tetapi, keinginannya harus berhadapan dengan tuntutan dan harapan yang terlanjur dipukulkan ke pundaknya. Setelah berkonsultasi dengan teman-temannya dan melakukan perenungan yang mendalam akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjuangan politiknya melalui partai politik. Dia kemudian mendirikan sebuah partai politik yang  plural, lintas etnik, dan lintas  agama. Partai Amanat Nasional (PAN) dideklarasikan pada 23 Agustus 1998, di Istora Senayan. Pada Pamilu 1999 partai ini masuk lima besar. Setelah bersaing ketat melalui voting, Amien akhirnya terpilih sebagai ketua MPR RI.      
  


II TAMBAHAN

      Dalam berbagai kesempatan, Amien Rais secara terus terang mengakui bahwa ibunyalah yang sangat mempengaruhi karakternya yang lugas tanpa basa-basi. Sampai kini Amien masih menempatkan ibunya sebagai konsultannya dan tempat pelipur lara. Mana kala ia meng­hadapi situasi atau persoalan pelik, ia selalu pulang ke Solo menemui sang ibu untuk meminta pendapatnya, atau sekadar untuk menghindari kejaran wartawan yang pantang ia tolak. Setiap Idul Fitri ia beserta semua saudaranya juga berkumpul di rumah sang ibu. Menurut Amien, hingga usia 80-an, ketegasan dan kejernihan berpikir Ibunya masih tetap seperti dulu. Ibunda Amien Rais wafat hari Jumat, 14 September 2001 di Solo, Jawa Tengah, dalam usia 89 tahun.
Prinsip hidup yang jadi pegangannya diakuinya sangat sederhana, yaitu mencari ridha dan ampunan Allah. Untuk mencapainya, orang harus berbicara dan berbuat apa adanya. “You are what you are,” katanya suatu ketika. Ia membagi kebahagiaan menjadi tiga jenis, yaitu kebahagiaan spiritual, kebahagiaan intelektual, dan kebahagiaan psikologis. Kebahagiaan spiritual diperoleh dengan cara menjalani hidup sesuai dengan rel agama. Kebahagiaan intelektual diperoleh dengan cara memberikan konstribusi pemikiran kepada masyarakat. Sedangkan kebahagiaan psikologis didapatnya bila ia bisa berbuat atau menolong orang lain.
Keberanian dan ketegaran yang dimiliki Amien Rais ternyata tidak lepas dari peran sang istri. Suatu saat, ketika diinterviu seorang wartawan Jepang, saya melihat dengan nada bangga Amien Rais mengatakan, “Istri saya mungkin merupakan wanita terbaik se-Asia Tenggara.” Komentar tersebut mungkin terasa berlebihan bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi Amien Rais. Ia pernah menceritakan kepada saya bahwa ketika studi di Chicago, karena beratnya beban kuliah yang dihadapi, hampir saja ia putus asa. Untung ada sang istri yang terus-menerus memompa semangatnya.
Begitu juga ketika ia merasa lelah saat melawan Orde Baru, istrinya tidak pernah lelah untuk membangunkan kembali spiritnya. Sampai-sampai ia pernah mengomentari istrinya sebagai sumber inspirasi dan motivasinya. Bahkan menjelang tumbangnya Soeharto, sempat tersebar isu bahwa Amien Rais akan ditangkap. Ia kemudian memberi tahu sang istri tentang berita buruk yang akan menimpanya. Dengan nada tegar sang istri menjawab, “Insya Allah ini akan mempercepat kejatuhan Rezim Soeharto.”
Partai Amanat Nasional mendeklarasikan pasangan Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo sebagai calon presiden dan wapres hari Minggu 9 Mei 2004 di halaman belakang Gedong Joeang 45, Jakarta. Dwitunggal yang disebut sebagai koalisi agamis-nasionalis dan nasionalis-agamis itu bertekad membangun kedamaian dan menuntaskan reformasi.
Selain itu, dwitunggal ini juga disebut sebagai pemimpin yang berani, jujur dan amanah. Pada acara deklarasi ini, juga dibacakan garis besar platform Amien Rais Siswono yang bertajuk ‘Akselerasi Kemajuan Bangsa 2004-2009.
Kiprah Prof. Dr. M. Amien Rais dalam pentas politik nasional cukup fenomenal. Kendati Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya, hanya mendapat tujuh persen suara pada Pemilu 1999, ia mampu menjadi king maker pentas politik nasional dan menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bahkan nyaris pula jadi presiden pada SU-MPR 1999. Kini, mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu menjadi salah satu kandidat kuat calon presiden yang berpeluang memenangi Pemilu Presiden 2004.
Pada awal bergulirnya reformasi, putera bangsa kelahiran Solo, 26 April 1944, ini didaulat berbagai kalangan aktivis sebagai Bapak Reformasi. Ia menonjol dengan berbagai aktivitas dan pernyataan-pernyataan yang cerdas dan keras ketika itu. Memang, sejak awal bergulirnya reformasi yang digerakkan oleh para mahasiswa, Amien Rais sudah menyatakan diri ingin mencalonkan diri sebagai presiden. Suatu pernyataan yang tergolong amat berani sebelum lengsernya Pak Harto.
Pencalonan dirinya menjadi presiden itu, bukanlah semata-mata didorong hasrat untuk berkuasa, melainkan lebih didorong keprihatinannya atas penderitaan rakyat akibat kesalahan kepemim-pinan nasional yang otoriter dan korup. Ia melihat, keterpurukan bangsa ini harus diperbaiki mulai dari tampuk kekuasaan.
Obsesi inilah yang mendorong Guru Besar Universitas Gajah Mada ini mendirikan PAN bersama-sama dengan para tokoh reformis lainnya. Sebuah partai terbuka berasas Pancasila dan berbasis utama Muhammadiyah. Namun suara yang diperoleh PAN pada Pemilu 1999 tidak cukup signifikan untuk mengantarkannya ke kursi presiden untuk dapat mengendalikan upaya pewujudan tujuan reformasi total.
PAN dinilai banyak kalangan sebagai partai masa depan dan reformis yang memiliki ‘keunikan’ dibanding beberapa partai lain. Partai ini adalah partai terbuka (kebangsaan) tetapi berkompeten mengatasnamakan (menyuarakan) aspirasi Islam. Suatu partai yang dinilai sangat ideal untuk Indonesia masa depan.
Kepiawian Berpolitik
Kepiawiannya berpolitik juga sudah terbukti. Kendati partai yang dipimpinnya bukan pemenang Pemilu 1999, tapi peranannya dalam pentas politik nasional sangat menonjol. Sehingga ia pantas digelari sebagai King Maker Pentas Politik Nasional.
Kecerdasannya menggalang partai-partai berbasis Islam membentuk Poros Tengah, suatu bukti kepiawiaannya berpolitik. Pembentukan Poros Tengah ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kericuhan dan perpecahan bangsa, sebagai akibat kerasnya persaingan perebutan jabatan presiden antara BJ Habibie (Partai Golkar) dengan Megawati Sukarnoputri (PDIP).
Dan, memang Poros Tengah secara gemilang berhasil merubah konstalasi politik nasional secara signifikan. Amien Rais tampak berperan sebagai play maker bahkan king maker dalam berbagai manuver politik Poros Tengah yang berpengaruh luas dalam pentas politik nasional. Ia jauh lebih berperan dari pimpinan partai politik (PDIP, Partai Golkar, PPP dan PKB) yang meraih suara lebih besar dibanding PAN pada Pemilu 1999.
Salah satu manuver politik Amien Rais (dengan mengangkat bendera Poros Tengah) yang dinilai banyak orang sangat brilian adalah pernyataannya menjagokan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden. Manuver ini berhasil melemahkan kekuatan Megawati, sebagai calon kuat presiden ketika itu, karena berhasil menarik PKB dari koalisinya dengan PDIP. Tetapi juga sekaligus melemahkan kekuatan BJ Habibie, yang sebenarnya tidak diinginkan beberapa elit politik partai berbasis Islam yang tergabung dalam Poros Tengah, seperti PPP dan PBB.
Bahkan, justeru BJ Habibie yang terlebih dahulu — secara tidak langsung — terkena dampak manuver politik Poros Tengah. Laporan pertangungjawaban Habibie ditolak SU-MPR 1999, yang memaksanya secara etika politik mengurungkan pencalonan presiden.
Mundurnya BJ Habibie membuka peluang kepada Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, dan Yusril Ihza Mahendra ikut dalam bursa calon presiden. Dalam pertemuan di kediaman BJ Habibie, pada malam setelah LPJ-nya ditolak MPR, nama keempat pemimpin partai ini dibahas sebagai calon presiden pengganti BJ Habibie. Dan, terakhir Amien Rais yang lebih diunggulkan.
Hampir saja Amien Rais resmi menjadi calon presiden yang dijagokan Poros Tengah dan Golkar. Tetapi Amien Rais tidak mau gegabah. Kendati peluangnya menjadi calon kuat presiden telah terbuka, ia ingin melakukannya dengan lebih elegan.
Ia ingin berbicara lebih dulu dengan Gus Dur. Ia butuh dukungan Gus Dur, sama seperti ia mengalah-kan Matori Abdul Jalil untuk merebut jabatan Ketua MPR. Apalagi Amien Rais telah secara terbuka menyatakan bahwa ia dan Poros Tengah akan mencalonkan Gus Dur menjadi presiden. Sehingga betapa pun kuatnya dorongan agar ia men-jadi presiden, ia tidak mau gegabah. Ia punya etika dan moral politik.
Maka ketika Gus Dur telah mendahului secara resmi dicalonkan PKB untuk merebut kursi presiden, Amien Rais tidak mau bersaing mencalonkan diri. Ia dan Poros Tengah mendukung pencalonan Gus Dur. Sehingga jadilah Gus Dur, dengan kesehatan jasmani yang sudah terganggu, terpilih menjabat presiden menga-lahkan Megawati Sukarnoputri pemimpin partai pemenang Pemilu (35%).
Poros Tengah yang dimotori Amien Rais berhasil merubah konstalasi politik nasional secara signifikan. Poros Tengah berhasil meredam kemungkinan terjadinya kericuhan antara dua kekuatan pendukung Megawati dengan BJ Habibie, yang berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Poros Tengah berhasil mengantarkan KH Abdurrahman Wahid ke singgasana presiden. Kendati Abdurrahman Wahid dalam banyak hal sering berbeda pendapat dengan prinsip yang dianut para elit politik Poros Tengah.
Itu semua tidak terlepas dari kepiawian Amien Rais. Dengan hanya mendapat tujuh persen suara pada pemilu 1999, Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya mampu mewarnai peta politik setelah tumbangnya rezim Orde Baru. Tidak sedikit pujian yang kemudian dialamatkan kepadanya.
Itulah Amien Rais. Ia piawai dalam memanfaatkan situasi. Canggih dalam menciptakan peluang, bahkan mampu memaksimalkan sumber daya yang ada, meskipun kecil, untuk meraih hasil yang jauh lebih besar.
Hubungan Amien Rais dan Poros Tengah dengan Gus Dur, pada awal pemerintahan Gus Dur, terkesan sangat baik. Amien Rais bahkan merupakan satu dari empat orang yang dimintai tolong oleh Gus Dur untuk menyusun kabinetnya, yang sering disebut sebagai kabinet yang paling kompromistis dalam sejarah Indonesia.
Tetapi sayang, seiring berjalannya waktu, hubungan antara Gus Dur dan Amien Rais merenggang. Kekuatan Poros Tengah yang dulu mendukung Gus Dur, mulai merasa tak dihargai. Gus Dur cepat lupa kepada mereka yang memungkinkannya jadi presiden. Gus Dur kembali dalam habitatnya, dan sering kontroversial.
Keretakan makin mencuat terutama setelah Gus Dur memecat Hamzah Haz dari jabatan Menko Kesra. Poros Tengah merasa dilukai. Poros Tengah berbalik arah menggalang kekuatan dengan PDIP dan Golkar yang juga sudah merasa dilecehkan Gus Dur. Akhirnya, pada Juli 2001 Gus Dur pun diturunkan dari kursi presiden dan Megawati naik menggantikannya. Dalam proses ini, Amien Rais juga memain-kan peranan yang cukup besar.

DAFTAR PUSTAKA
           
Najib, Muhammad. 2004. Guru Salimin. Jakarta . Hikmah (PT Mizan Publika)

RINCIAN BUKU
Judul Buku                  :  GURU SALIMIN
Pengarang                    :  MUHAMMAD NAJIB
Editor                          :  A. BAKIR IHSAN
Penerbit                       :  HIKMAH ( PT MIZAN PUBLIKA )
Tahun Terbit               :  2004
Kota Terbit                  :  BANDUNG
Ketebalan                    :  195 Hal


Tidak ada komentar:

Posting Komentar