Kamis, 21 April 2016

BIOGRAFI WALANDA MARAMIS



Maria Josephine Catharina Maramis atau yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu. Ia lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872.

Sejak berusia 6 tahun, ia telah yatim piatu karena kedua orang tuanya jatuh sakit dan meninggal dalam waktu yang singkat hingga diasuh oleh pamannya. Sekalipun ia hanya bersekolah hingga Sekolah Dasar (HIS), namun ia bercita-cita amat tinggi untuk memajukan kaumnya. Tidak hanya bercita-cita semata-mata, namun sungguh-sungguh ia ingin mewujudkannya.

Pernikahannya dengan Josef Frederick Calusung Walanda, seorang guru HIS di Manado pada tahun 1890 direstui oleh pamannya. Segera setelah pernikahan, Maria mengikuti suaminya ke tempat pekerjaannya, Maumbi. Sebuah desa kecil yang letaknya kira-kira pada pertengahan antara Manado dan Airmadidi. Pada saat inilah semakin membuat semangat Maria membesar untuk mewujudkan cita-citanya. Menyadari wanita-wanita muda saat itu perlu dilengkapi dengan bekal untuk menjalani peranan mereka sebagai pengasuh keluarga. Pada perjalanannya menuju perubahan demi perbaikan kaumnya itu, Maria Walanda Maramis mengalami banyak rintangan dan tidaklah semudah apa yang ia bayangkan meskipun sudah menikah dengan seorang guru dan sudah tidak tinggal bersama dengan pamannya. Pada suatu hari ia berkenalan dengan keluarga bangsa Belanda, keluarga Ten Hove, pendeta di Maumbi, Maria Walanda Maramis sangatlah akrab dengan keluarga ini sehingga seringlah adanya kunjungan kekeluargaan yang sesungguhnya dimaksudkan untuk saling mengenal lebih baik, saling mengajar dan belajar. Rumah yang didiami keluarga Ten Hove itu ternyata didiami juga oleh gadis-gadis pribumi, dimana gadis-gadis itu disebut murid oleh ibu Ten Hove. Gadis-gadis tersebut ditampung dan diberi pelajaran tentang segala sesuatu cara mengurus dan mengatur rumah tangga, selang berapa lama apabila gadis-gadis itu telah cukup banyak belajar, dan dinilai ibu Ten Hove telah cakap dan sanggup trampil mengurus dan mengatur rumah tangga, maka mereka dibolehkan pulang ke rumah masing-masing dengan pesan mempraktikan semua pelajaran di rumah sendiri. Dengan melihat dan diceritakannya seperti itu membuat Maria Walanda Maramis semakin bersemangat mewujudkan cita-citanya untuk meningkatkan taraf pendidikan wanita. Ibu Walanda Maramis bersama suaminya Jozef dikaruniai empat orang anak yaitu Wilhelmina Frederika,yang biasa dipanggil keke, Paul Alexander, yang dipanggil Oetoe, Anna Pawlona, yang dipanggil Moetjie, dan Albertine Pauline yang biasa dipanggil Raunkonda atau disingkat Konda. Anaknya yang bernama Paul Alexander atau Oetoe meninggal disaat umur dua tahun akibat penyakit sawan. Kemudian datang saatnya Jozef dipindahkan ke Manado untuk mengajar bahasa Belanda di Sekolah Rendah (HIS), di kota Manado inilah Maria dan Jozef sudah seia sekata untuk mengajarkan anak-anak mereka bahasa Belanda dan menyekolahkan anaknya di HIS, dimana HIS adalah tempat Josef mengajar. Namun hanya Moetjie dan konda yang dapat bersekolah di sekolah tersebut, karena kakanya keke tidak dapat mengikuti pelajaran dikarenakan sakit parah. Tetapi agar anaknya itu dapat bersekolah di HIS, banyak rintangan yang dialami Jozef dan Maria Walanda yaitu diantaranya penolakan oleh pemerintah kolonial setempat dan Jozefpun sempat dipecat meskipun akhirnya diangkat kembali menjadi guru HIS. Setelah dapat bersekolah dan mengikuti ujian Klein Ambtenaar dan dinyatakan lulus Moetjie dan Konda melanjutkan pelajarannya ke Jawa dan ini sangat didukung oleh ibundanya, Maria Walanda Maramis meskipun banyak cobaan yang datang dari warga Minahasa ataupun ayahnya sendiri yang awalnya menentang kepergian mereka. Namun demikian, Maria telah merasa puas dan berbahagia karena sekarang telah terbuka lebar jalan bagi gadis-gadis Minahasa untuk pergi ke Jawa demi pelajaran lanjutnya, demi penambahan ilmu pengetahuan yang akan mengantarkan mereka ke tujuan yang lebih baik lagi, yaitu peningkatan taraf pendidikan bagi wanita dan persamaan hak bagi kaum wanita dan pria. Ibu Walanda dengan dibantu beberapa orang lain mendirikan Perkumpulan Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) pada tanggal 8 Juli 1917. Tujuan organisasi ini adalah untuk mendidik kaum wanita yang tamat sekolah dasar dalam hal-hal rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, pekerjaan tangan, dan sebagainya. Pada awalnya ketika Ibu Walanda menguraikan pendapat dan rencananya terhadap tujuan tersebut dengan disertai semua kemungkinan rintangan dan kesulitan yang akan dihadapi sebagai akibat, kepada anggota-anggota Pengurus Besar PIKAT. Namun anggota-anggota tersebut acuh tak acuh terhadap rencana yang mereka nilai terlalu muluk dan sukar dilaksanakan tetapi ibu walanda bersikeras mempertahankan usul dan rencananya itu. Ibu walanda berkeras hati ingin melakukan sesuatu yang disadari sangat berguna bagi orang lain. Setelah beberapa lama dibicarakan, didiskusikan dan kemudian dipertimbangkan oleh anggota pengurus besar PIKAT, maka usul ibu Walanda dapat diterima karena anggota-anggota tersebut telah berjanji untuk membantu dan mendampingi ketua mereka biar bagaimanapun besarnya kesulitan yang dihadapi lagipula itu semua dilakukan demi kawan mereka sejenis, untuk anak-anak gadis mereka, anak-anak gadis Minahasa dan bahkan lebih luas lagi untuk anak gadis dan wanita Indonesia.
Hingga pada akhirnya semua Konsep yang dituangkan oleh Maria Walanda-Maramis pada PIKAT mulai mendapat hasil. Kemajuan sekolah dan pendidikan mendatangkan hasil yang memuaskan, salah satunya yaitu Peran Maria Walanda Maramis dengan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) adalah kesuksesan dokter wanita pertama dari Indonesia, Marie Thomas.

Melalui kepemimpinan Maramis di dalam PIKAT, organisasi ini bertumbuh dengan dimulainya cabang-cabang di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling. Cabang-cabang di Jawa juga terbentuk oleh ibu-ibu di sana seperti di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Pada tanggal 2 Juni 1918, PIKAT membuka sekolah Manado. Maramis terus aktif dalam PIKAT sampai pada kematiannya Maret 1924, terakhir kali sebelum ia meninggal ia menyusun suatu permohonan yang ditujukan ke Pemerintah untuk memperoleh andil dari undian Negara, dan akan diperuntukkan bagi Sekolah Kepandaian Putri dan ibu walanda juga berpesan “Jagalah dan peliharalah baik-baik anak bunsuku, PIKAT” kepada nona H. Sumolang, direktris PIKAT. Ibu Maria Walanda Maramis dimakamkan di Maumbi, Sulawesi Utara.

Pada setiap tanggal 1 Desember, masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis, sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan. Juga dibangun Patung Walanda Maramis yang terletak di Kelurahan Komo Luar Kecamatan Weang sekitar 15 menit dari pusat Kota Manado yang dapat ditempuh dengan angkutan darat.

Untuk menghargai peranannya dalam pengembangan keadaan wanita di Indonesia, Maria Walanda Maramis mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969 melalui SK Presiden RI No. 012/TK/1969
Daftar Pustaka
A.P. Matuli Walanda. 1983. Ibu Walanda Maramis, Pejuang Wanita Minahasa, Sinar Harapan. Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar