Rabu, 20 April 2016

BIOGRAFI BOEDIONO



MENGENAL BOEDIONO

Siapakah Boediono itu?
Boediono lahir di kampung Kepanjen Lor, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada 25 Februari 1943. Beragama Islam Dalam bahsa Jawa, Boedi dapat diartikan sebagai berbaik hati (berbudi luhur). Sedangkan Ono, dapat diartikan adalah ada. Jadi kalau digabung Boediono berarti Ada Kebaikan.
Sewaktu muda, Boediono menuntut ilmu sampai ke Negara sing, ia harus tinggal di Negara yang berbudaya Barat, namun ia tidak pernah meninggalkan basis kulturalnya sebagai orang Jawa asli Blitar yang memiliki latar belakang adat istiadat dan budaya kesantunan tersebut. Hingga menjadi Menteri pun, atau menjabat Gubernur Bank Central, dan menjadi calon Wakil Presiden, Boediono tidak pernah berubah menjadi orang yang santun. Tidak pernah terlintas menjadi arogan dan berpamer diri.
Titisan Soekarno
Dalam perspektif budaya Jawa, Boediono, boleh dikata sebagai “titisan” Soekarno (Bung Karno, presiden RI petama). Bukan secara kebetulan kalau keduanya dilahirkan dari kota yang sama, yaitu Blitar. Semikian juga halnya dalam soal memandang politik ekoniomi, memiliki kemiripan persepsi, sama-sama konsentrasi terhadap pengembangan perekonomian rakyat.
Soekarno dulu menerapkan konsepsi dasar pemikiran perekonomian Berdikari – Berdiri di atas kaki sendiri. Boediono kini menerapkan konsepsi perekonomian nasional. Menggunakan dasar ideologisnya sama, konsentrasi terhadap jiwa nasionalisme. Pandangannya pun sama, tetap berpegang teguh pada kepentingan perekonomian nasional dengan memanfaatkan modal asing dan bantuan internasioanl sebagai pelengkap utuk kemakmuran rakyat, demi perekonomian dalam negeri. Kalau kata orang-orang asingitu banyak tingkah, ingin mengatur macam-macam, lalu apa kata Presiden Soekarno Go to hell with your aid. Persetan dengan bantuanmu!.persis sebagaimana tindakan Boediono dalam mendukung kebijakan Presiden SBY : “Enyahkan IMF, dan bubarkan CGI”.
Muslim yang Soleh
Boediono dikenal seorang muslim, seorang santri yang sholeh. Menurut kesaksian KH Maktub Effendi, rais am Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Mutabaroh Indonesia, di kala muda, Boediono pernah menjadi santri Kyai Haji Thohir Wijaya, pemilik dan pemimpin Pondok Pesantren di Blitar.
Pada waktu itu, KH Thohir Wijaya telah memberikan pelajaran amalan zikir kepada Boediono. Amun belum sempat membaitkannya sebagai anggota terekat ikrar ke mursyid (guru), karena Boediono keburu meninggalkan Indonesia untuk studi ke luar negeri.
Boediono tinggal lama di luar negeri, hal inilah yang kemudian menimbulkan penilaian orang terutama untuk konsumsi politik Boediono dianggap bukan muslim. Sebuah penyesatan informasi yang nampak ingin menjatuhkan citra Boediono sebagai seorang muslim sejati.
Menanggapi hembusan itu, nampak Boediono tenang-tenang saja, karena beliau tahu, hanya Tuhan yang akan memberikan keadilan bagi orang-orang yang suka menzalimi. Bagaimana mungkin Boediono dikatakan bukan seorang muslim, tidak memperjuangkan aspirasi dan kepentingan perekonomian umat Islam di Indonesia. Kalau diperhatikan, Undang-Undang Surat Berharga Syariah Negara dan Perbankan yariah, keduanya lahit saat Boediono menjadbat Menko Perekonomian.





MENGARUNGI PERJALANAN HIDUP BOEDIONO

Sewaktu kecil, Boediono tinggal bersama kedua orangtuanya, di kampung Kepanjen Lor, Blitar, Jawa Timur. Beliau anak dari pasangan Ahmad Siswo Harjono dan Samilah. Ia anak sulung, dengan dua adiknya bernama Tutik (perempuan) dan Kuncoro Jati (laki-laki). Ayahnya menghidupi keluarganya dengan berjualan batik, runag tamu yang hanya seluas 3x8 meter, diubah fungsinya menjadi took batik. Hasil berdagang batik ini belum cukup untuk penghidupan keluarga sederhana ini. Ibunya, Ibu Samilah membantu mencari tambahan hasil dengan berjualan perhiasan. Kondisi keuangan keluarga inilah yang mengajarkan kepada pribadi Boediono untuk selalu hemat, menghargai uang yang tidak gampang dicari dan mengajarkan pola hidup sederhana. Hingga kini Boediono memiliki tabungan sebesar Rp. 18 miliyar, namun belaiau tetap berpegang teguh dengan gaya hidup sederhananya.
Pendidikan
Boediono, yang lahir dari keluarga tidak berkecukupan itu menyadari, hanya pendidikanlah satu-satunya cara untuk mengubah nasib hidup, dari tidak mampu emnjadi berkemampuan. Maka ia bulatkan tekad untuk sukses menempuh pelajaran di sekolahnya.
Boediono menempuh pendidikan dari sekolah dasar hingga menengah atas diselesikan di Blitar. Tahun 1957, ia masuk SMA Negeri 1 Blitar sebagai angkatan ketiga sejak SMA itu berdiri yang merupakan satu-satunya SMAdi Blitar waktu itu. Boediono teemasuk murid paling muda, teman-temannya rata-rata umurnya jauh diatasnya. Pelajaran sekolah yang paling disukai adalah ilmu hitung dagang dan ekonomi.
Setelah lulus SMA, pada tahun 1960, Boediono diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. Untuk mengurangi beban biaya kuliah agar tiodak memberatkan orang tuanya, Boediono berusaha berprestasi untuk mendapatkan beasiswa. Usahanya berhasil, setelah naik tingkat II, Boediono mendapatkan beasiswa dari badan internasional Clombo Plan, namun ia harus meninggalkan “Gadjah Mada”, dan meneruskan kuliah di Australia. Tekadnya bulat. Iamendapatkan restu dari orang tuanya, ia harus tinggalkan Indonesia, dan merampungkan studi ekonominya di Negara kangguru tersebut.
Prestasi dan Penghargaan
Boediono memperoleh gelar Bachelor of Economics (Hons) dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, gelar Master of Economics diperolehnya dari Universitas Monash. Kemudian pada tahun 1979, ia mendapatkan gelar S3 (Ph.D.) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat.
Serangkaian pendidikannya itu diperoleh berkat adanya bea siswa, maka ia dikesankan sebagai “spesialis bea siswa”. Ia berangkat dari ketidakberdayaan ekonomi menuju kedigdayaan ekonomi. Kuncinya adalah penguasaan ilmu ekonomi.
Setelah menyelesaikan studi di luar negeri, ia kembali ke Indonesia. Ia masuk kerja di sebuah bank di Jakarta. Pada tahun 1972, ia kembali ke kampusnya Gadjah Mada, menjadi dosen regular. Boediono mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana tahun 1999, dan Distinguished International Alumnus Award dari University of Western Australia pada tahun 2007.
Perubahan Nasib
Kecintaan Boediono terhadap ilmu ekonomi telah ikut mengubah nasibnya, dari anak tak mampu menjadi berkemampuan. Pada tahun 1990-an, Boediono yang mempunyai kebiasaan menulis menuangkan gagasan dan pikirannya dalam sebuah artikel mengenai pembangunan Indonesia. Rupanya artikel itu dibaca dan dicermati oleh JB Sumarlin yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Sumarlin tertarik artikel Boediono tersebut. Tidak berapa lama, Boediono dipanggil ke Jakarta, dan oleh Sumarlin ditawari posisi menjabat Kepala Biro Ekonomi. Tawaran kerja baru itu pun diterima oleh Boediono.
Pada periode tahun 1997-1998, ketika Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang berujung pada berakhirnya jabatan Presiden Soeharto, Boediono diangkat menduduki jabatan sebagai Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat. Prestasi Boediono dinilai cukup baik, sehingga settahun kemudian ia dialihkan untuk menempati posisi Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter.
Pada era pemerintahan Presiden BJ Habibie, tahun 1998-1999, Boediono diangkat menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Ketua Bappenas Kabinet Reformasi Pembangunan.
Pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri tahun 2001-2004, Boediono diangkat menjadi Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong. Pada bulan Desember 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Boediono, mantan Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (Presiden Megawati) untuk masuk memperkuat tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, menggantikan Aburizal Bakrie. Presiden menilai Boediono mampu mengelola makro-ekonomi yang waktu itu belum didukung pemulihan sector riil dan moneter.
Ketika itu Indonesia terancam menghadapi krisis tajam ketika memasuki tahun 2004. Hal ini mungkin terjadi jika Indonesia secara bersama-sama gagal mengatasi tiga program yakni berakhirnya program Dana Moneter Umum 2004, dan soal integritas wilayah.
Masa transisi pasca program IMF sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar. Untuk mengatasi hal itu, Presiden SBY memprtcayakan kepada Boediono. Oleh karena itu, ketika akan dilangsungkan Pilpres bulan 2009, Presiden SBY meminta Boediono untuk bersedia menjadi calon wakil presiden mendampingi dirinya. Permintaan SBY itu tidak seta merta langsung diterimanya begitu saja. Boediono meminta waktu untuk berpikir jernih dan meminta pertimbangan kepada keluarga. Pada akhirnya tawaran itu diterimanya, disambut baik oleh Boediono yang mengaku dekat dan cocok bekerjasama dengan SBY selama bertahun-tahun sebelumnya, yakni ketika menjalankan tugas sebagai menteri. Waktu itu Boediono menjabat sebagai Menteri Keuangan,sedangkan SBY sebagai Menteri Polkam.





PANDANGAN EKONOMI

Ekonomi dan Demokrasi
Boediono mengungkapkan, neoliberal yang dicapka pada dirinya hanya sebuah label yang tidak jelas juntrungannya. Dalam pandangannya, neoliberal tak pernah dipraktikan dalam kebijakan perekonomian nasional Indonesia selama Boedinono menjadi menteri. Dalam program kampanyenya boediono banyak mengetengahkan tiga kata kunci : Pertama, kesejahteraan rakyat. Kedua, pemerintahan yang bersih. Ketiga penguatan demokrasi.
Bangsa Indonesia telah memiliki jalur demokrasi untuk membangun Negara ini. Pilihan itu adalah benar. Selanjutnya, dengan menarik pelajaran dari pengalaman sendiri dan pengalaman Negara-negara lain yang mengikuti jalur ini, bangsa Indonesia memperoleh gambaran mengenai jalan yang kemungkinan akan dilalui ke depan. Demikian pokok-pokok pikiran yang disampaikan oleh Prof Dr Boediono, yang waktu itu menjabat Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu. Saat menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Dimensi Ekonomi Politik Pembangunan Indonesia” sewaktu pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), di Balai Senat UGM, Jogyakarta, tanggal 24 Februari 2007.
Menurut Boediono, pada tahap awal factor ekonomi sangat menentukan pelaksanaan demokrasi. Kemungkinan kegagalan demokrasi sangat tinggi pada tingkat penghasilan per kapita rendah, dan secara progresif menurun dengan kenaikan penghasilan. Apabila dihitung, tahun 2006 penghasilan per kapita sekitar 4.000 dollar AS, sedangkan batas kritis bagi demokrasi sekitar 6.000 dolar AS. Indonesia belum dua pertiga jalan menuju batas aman bagi demokrasi.
Sejumlah studi empiris lain, terutama oleh para ekonom menyimpulkan, demokrasi bukan penentu utama prestasi ekonomi. Bagi Negara-negara berpenghasilan rendah, penegakan hukum lebih menentukan kinerja ekonomi daripada demokrasi. Kedua,pemerintahan yang bersih. Apabila kesimpulan ini benar, lanjutannya, maka Negara-negara berpenghasilan rendah dapat memacu pertumbuhan ekonominya, meskipun mereka belum siap menerapkan demokrasi, asalkan dapat memperbaiki penegakkan hukum. Tetapi, eperti yang telah disinggung tadi, dengan meningkatkanya kemakmuran, demokrasi akan makin “diminta” oleh masyarakat.
Karya dan Publikasi
Boediono sebagai ekonom dikenal produktif berkarya tulis, beberapa karya tulisnya yang sempat dipublikasikan, antara lain :
1.      Mubyarto, boediono, Ace Partadiredja. 1981. Ekonomi Pancasila. BPFE. Yogyakarta.
2.      Boediono. 2001. Indonesia menghadapi ekonomi global. BPFE. Yogyakarta.
3.      Boediono. Strategi Industrialisasi : Adakah Titik Semu ? Prisma Tahun CV, No.1. (1986)
4.      The International Monetary Fund Support Program in Indonesia: Comparing Implementation Under Three Presidents. Bulletin of Indonesia Economic Studies, 38(3): 385-392, Desember 2002.
5.      Kebijakan Fiskal : Sekarang dan Selanjutnya?. Dalam Subiyantoro dan S.Riphat (Eds.). 2004. KEbijakan Fiskal : PEmikiran, Konsep dan implementasi. Penerbit Buku Kompas, 43-55 pp.
6.      Professor Mubyarto, 1938-2005. Bulletin of Indonesia Economic Studies 41(2):159-162, August 2005.
7.      Stabilization in A Period of Transition: Indonesia 2001-2004. Dalam The Australian Government-Thhe Treasury, Macroeconomic Policy and structural Change in East Asia : Conference Proceedings, Sydney (2005), ISBN 0 642 74290 1, 43-48 pp.







GUBERNUR BANK INDONESIA

Sejak era reformasi, hampir semua Gubernur Bank Indonesia, bermasalah. Mulai dari Sudrajat Djiwandono, Sjahril Sabirin, dan Burhanuddin Abdullah. Hanya Boediono yang selamat.
Gubernur Bank Indonesia dan jajarannya mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar terhadap kondisi keuangan Negara. Telah menjadi perbincangan umum, posisi tertinggi dalam BI sejak lama menjadi incaran partai politik. Sebab dia merupakan pemimpin lembaga yang begitu independen. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang BI yang biasa disebut sebagai UUBI, yang berlaku saat ini, menjamin lembaga BI tidak “tersentuh” pemerintah, terlebih dalam kebijakan pengelolaan moneter. Itu berarti urusan peredaraan uang Negara sepenuhnya menjadi kebijakan Gubernur dan Dewan Gubernur Bank Indonesia. Posisi ini amat menarik bagi banyak kalangan termasuk para politisi di parlemen yang suka menyoroti soal indenpendensi BI dan menjadi ajang perebutan untuk meraih jabatan Gubernur bagi kelompok penting tersebut.
Akhirnya terbit Keputusan Komisi XI DPR, Boediono ditetapkan sebagai Gubernur BI periode 2008-2013, pada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur BI menggantikan Burhanuddin Abdullah. Penetapan Boediono merupakan calon tunggal yang diusulkan Presiden SBY dan pengangkatannya pun didukung oleh Burhanuddin Abdullah, Menkeu Sri Mulyani, Kamar Dagang Industri (Kadin), seluruh anggota DPR, terkecuali fraksi PDIP yang tetap menolak.
Terpilihnya Boediono, secara otomatis telah mengakhiri isu konflik antara eksekutif dan legislative yang sempat menghebohkan itu. Setelah diangkat menjadi Gubernur BI, Boediono berusaha keras membenahu budaya dan pengertian indepedensi yang dianut Bank Indonesia.



BOEDIONO
Mencerminkan Pribadi Bersahaja, Santun, Pekerja Keras,
Mumpuni, Cermat dan Cinta Kasih

Sebuah fenomena kehidupan bernegara yang berlangsung setiap lima tahun sekali pergantian kepemimpinan nasional, Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat, telah melahirkan sejumlah analisis prediksi kualitatif.
Terpilihnya Boediono sebagai Cawapres yang mendampingi Capres SBY pada Pilpres 8 juli 2009, selain menunjukan kecenderungan agenda pembangunan lima tahun mendatang yang Nampak lebih berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi ketimbang bidang bidang lain telah dapat terbaca sejak awal.
Tantangan Indonesia pada perjalanan lima tahun kedepan, secara normative lebih beraksentusipada jalur tuntutan peningkatan kesejahteraan rakyat dan tema pemberantasan kemiskinan yang berkaitan dengan usaha penciptaan lapangan kerja, itulah agenda utama Indonesia. Untuk itu, jabatan politik tertinggi harus memiliki visi dan misi ekonomi yang menunjang. Wapres harus berkemampuan menguasai ilmu ekonomi dan telah terpuji secara empiris melahirkan kebijakan yang tepat. Pilihannya jatuh pada Boediono yang bukan belatar belakang orang bismis (pelaku bisnis), tetapi seorang akademisi yang visioner membangun negeri.






TAMBAHAN dari SUMBER LAIN

Riwayat Hidup Boediono:
Nama : Prof. Dr. Boediono
Tempat/Tanggal Lahir : Blitar, Jawa Timur/25 Februari 1943
Anggota Keluarga:
- Nama Istri : Herawati Boediono
- Nama Anak : Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan
Riwayat Pendidikan
- Sarjana Ekonomi di University Of Westren, Australia (1967)
- Master di bidang ekonomi dari Monash University, Australia (1972)
- Doctor of Phhilosophy (Dr) dari Wharton School, University of Pennsylvania, AS (1979)
- Profesor dari Universitas Gadjah Mada (2006)
Riwayat pekerjaan
- Dosen (1973-hingga sekarang)
- 1988-1993 menjabat Deputi Ketua Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas
- 1993-1998 Menjabat sebagi Direktur (saat ini setara Deputi Gubernur) Bank Indonesia
- 1998-1999 menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
- 2001-2004 Menjabat Sebagai Menteri Keuangan
- 2008-2013 Menjadi Gubernur Bank Indonesia
Boediono adalah seorang ekonom jenius yang memuncaki karir politik sebagai wakil presiden Indonesia periode 2009-2014. Sebelum merambah dalam dunia birokrasi dan politik, Boediono tercatat sebagai guru besar Fakultas Ekonomi UGM. Ia dikenal cakap dan brilian menangani dan memecahkan permasalahan ekonomi Indonesia hingga dipecaya dalam jabatan penting mulai dari menteri keuangan dan Gubernur Bank Indonesia dalam era Presiden Megawati. Selama menjabat Menkeu beliau berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.

Boediono lahir di Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943 menikah dengan Herawati memiliki dua anak Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan. Gelar Master of Economics diperolehnya dari Monash University, Melbourne, Australia (1972) dan gelar doktor ekonomi di Wharton School University of Pennsylvania, AS tahun 1979. Boediono dan Sri Mulyani berhasil menstabilkan kurs rupiah pada kisaran Rp 9000-an per dolar AS dan suku bunga bank dalam posisi baik sehingga merangsang kegiatan bisnis dan dampaknya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pria berpenampilan kalem dan santun serta terukur berbicara itu juga dinilai mampu membuat situasi ekonomi yang kacau menjadi kondusif.

Saat baru menjabat Menkeu, langkah pertama yang dilakukan berpenampilan rapih dan low profile itu adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001. Paris Club ini merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002. Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003.

Departemen Keuangan di bawah kendali pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu pun berhasil melampaui masa transisi pascaprogram IMF, yang sebelumnya sudah dia ingatkan akan sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar. Apalagi kala itu, Pemilihan Umum 2004 juga berlangsung. Kondisi rawan itu pun berhasil dilalui tanpa terjadi guncangan ekonomi.

Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia berhasil memperbaiki keuangan pemerintah dengan sangat baik sehingga mampu membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional. Tak heran bila majalah BusinessWeek (AS), memberi Boediono pengakuan sebagai tokoh yang kompeten di posisinya sebagai menteri keuangan. Ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam Kabinet Gotong Royong.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan mengangkat Sri Mulyani menggantikan Jusuf Anwar sebagai Menteri Keuangan. Presiden berharap Boediono akan mampu membenahi kinerja ekonomi Indonesia, terutama di sektor riil dan terkait dengan tingginya laju inflasi saat ini menyusul kenaikan harga BBM pada 1 Oktober 2005 diiringi tingginya tingkat konsumsi pada bulan puasa Ramadhan dan Lebaran November 2005. Puncak karir Boediono terjadi pada Pemilu 2009 bersama SBY terpilih menjadi wakil presiden mendampingi SBY hingga tahun 2014. 

REFERENSI

(Referensi Utama) Yuwono, Son. Boediono “Titisan” Soekarno dari Blitar. 2009. Jakarta : Golden Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar